Saat Melvin Jatuh Sakit (1)
Jumat, 28 Juli 2017 pukul 06.00 WIB adalah hari yang tidak akan terlupakan oleh saya.
Pagi itu seperti biasa Melvin bangun pagi, mandi dan berpakaian seperti biasa. Dia memang sudah mandiri dan melakukan semuanya itu sendiri. Saat saya keluar dari kamar, Melvin sudah rapi dengan baju batik birunya.
Beberapa saat kemudian, Melvin berkata,"aku sakit kepala mama". Lalu dia duduk disofa dan membuka TV. Saat itu saya tidak memiliki firasat apa-apa.
Lalu dia mematikan TV dan berkata lagi,"sakit kepala ma", dengan wajah memgeryit. Saya segera menyuruhnya kembali ke kamar untuk tidur. Berpikir dia tidak enak badan dan tidak usah sekolah.
Saat berjalan ke kamarnya, tiba-tiba Melvin memegang kepalanya dan berteriak keras,"sakit sekali!!!". Lalu jatuh pingsan.
Semua berlangsung begitu cepat. Dengan rasa tidak percaya, saya melihat melvin tidak sadarkan diri, badannya kejang kaku dengan nafas tersengal-sengal. Saat itu saya tahu pasti sesuatu yg sangat buruk terjadi pada Melvin. Setiap mengingat ini, saya selalu menangis. Tuhan, mengapa?
Saya berteriak memanggil suami saya. Buru-buru dia mengendong Melvin yang masih kaku kejang masuk kedalam mobil.
Sekilas saya melihat adik Melvin, yang saat itu berusia 5 tahunan terbangun dan berdiri didepan pintu kamar, kaget melihat kokonya seperti itu.
Dalam hati, saya merasa bersalah padanya karena begitu saja meninggalkan dia sendiri kebingungan. Dipikiran saya hanya Melvin dan rasa shock berat. Rasanya jiwa saya melayang dan tak hentinya saya memanggil Melvin.
Melvin sempat membuka mata sebentar dimobil lalu dia muntah sedikit. Lalu menutup mata kembali. Bahkan saat menulis ini pun, air mata saya tidak berhenti mengalir. Saat itu saya hanya bisa menjerit dalam hari, O Tuhan, mengapa? Mengapa? Ada apa?
Rumah sakit terdekat adalah RS M dimana kami sekeluarga sering berobat. Perjalanan kesana terasa sangat lama apalagi ada lampu merah.
Sesampainya di UGD, Melvin lalu dibaringkan di tempat tidur. Kondisinya masih tidak sadarkan diri dan kejang. Tidak seperti di film-film dimana UGDnya begitu gesit, disini semua terasa bergerak sangat pelan.
Suster memasukkan obat anti kejang via anus. Namun kejang Melvin tidak berhenti. Lalu mereka memberikannya kedua kali via infus. Perlahan kejang mulai berhenti.
Mereka mengecek Melvin dan menyinari bola matanya dan saya sekilas mendengar dokter jaga berkata,"ini ada masalah diotaknya". Hati saya mencelos, langsung membayangkan meningnitis tapi bingung karena tidak ada gejala apapun.
Melvin tidak mengeluhkan apapun. Tidak ada sakit kepala ataupun demam sebelumnya. Memang 7 bulan lalu Melvin pernah terkena tipus diikuti radang paru. Pengobatannya sudah selesai. Dan sekarang ini?
Saya segera menelepon neneknya Melvin, mertua saya, untuk memberitahukannya kondisi Melvin. Saya ingat tidak bisa menahan tangis saat itu. Walau saya tahu harus berhati-hati memberitahu berita buruk pada orang tua.
Suster lalu memasangkan selang pernafasan pada Melvin dan membawanya ke ruang CT scan.
Hasil CT scan bisa langsung jadi. Dokter bedah syaraf bernama dr. M dipanggil ke ruang UGD. Beliau menjelaskan bahwa Melvin mengalami pendarahan diotaknya yang menyebabkan Melvin koma dan kejang. Untuk memastikan penyebabnya, harus dilakukan MRI.
- bersambung -
Komentar